Tepat pada hari Senin pagi tanggal 6 September 2010 Ihsan Demir tiba di kotaku Pekanbaru, Riau. Setelah melalui perjalanan yang sangat panjang, Istanbul - Dubai - Jakarta - Pekanbaru.
Ya dia benar-benar datang seperti janjinya beberapa bulan sebelumnya. Dia berjanji akan datang ke negaraku dan melamarku...:)
Ternyata dia benar-benar beda dengan pacarku (waktu itu aku punya pacar orang Indonesia), janji mau melamarku tapi ditunda dan ditunda lagi dengan alasan yang gak jelas, trus meninggalkanku dan bertunangan dengan cewek lain, lalu putus dan kembali lagi padaku (plin plan banget). Kembali ke topik 'kisahku dengan Ihsan Demir', jadi kisahku dengan cowok yang gak punya komitmen ini dilupakan aja...:D
Aku & temanku, Mitha yang menjemputnya di airport, dan mengantarkannya ke penginapan. Di lobby hotel dia memberikan 2 travel bag padaku, katanya hadiah darinya & keluarganya. Sampe di rumah aku buka, isinya ada jilbab, baju, gaun, celana jeans, ikat pinggang, rok, jacket, tas, sandal, sepatu, pakaian dalam wanita, stocking, perlengkapan kosmetik (make up) dan kamera.
Sebelum magrib, aku & temanku, Okta menjemputnya di hotel, buka puasa di sebuah resto. Dia sama sekali gak makan makanan yang dia pesan. Heran, padahal makanan & minumannya dia pesan sendiri. Pikirku mungkin gak sama dengan makanan di negaranya atau terlanjur kenyang karena udah ketemu denganku ...:p
Besok paginya, pagi-pagi sekali aku telpon ibuku, suruh ibu datang ke rumahku (aku tinggal di rumah sendiri, rumah ortuku jaraknya sekitar 40 KM, 1 jam naik bus atau motor dari kota Pekanbaru). 1 jam kemudian ibuku datang. Aku cerita kalo ada pria asing (bule) bermata hijau datang mau melamarku. Awalnya ibu gak percaya, karena aku & ibu sama kayak berteman, sangat dekat, sering curhat & becanda jadi dikira bohong...hehe.
Singkat kata, aku & ibu ke hotel, si bule (Ihsan Demir) ternyata udah nunggu di lobby. Aku perkenalkan ibu, mereka salaman & dia cium tangan ibu. Si Ihsan Demir tanpa banyak basa basi langsung mengutarakan niatnya datang ke Indonesia yaitu mau melamarku. Karena komunikasi kurang nyambung, jadi kami bertiga ke warnet terdekat. Ihsan Demir & ibu berkomunikasi pake bantuan google translate. Pertanyaan ibuku yang pertama adalah 'apa agama kamu?', dia jawab 'aku islam'. Selanjutnya ibuku ngetest si Ihsan, suruh baca 2 kalimat syahadat, Al-Fatihah dan bacaan sholat. Alhamdulillah lancar. Trus ibu nanya statusnya, dia jawab 'masih lajang dan belum pernah menikah'. Ibu tanya apakah datang dengan restu & izin ortu, dia jawab iya. Ibu juga tanya 'kenapa memilih anakku sedangkan di sana banyak wanita yang lebih cantik?', dia jawab 'aku mencintainya dan bagiku dia cantik'. Test hari itu cukup...:)
Sorenya ibu nelpon ayahku suruh datang besok hari. Besoknya ayah datang ke rumahku, ibu menceritakan semuanya. Awalnya juga ayah gak percaya. Aku, ayah & ibu datang ke hotel, seperti kemaren si Ihsan udah nunggu di lobby hotel. Berkenalan dengan ayah, salaman, cium tangan & pipi. Karena komunikasi juga gak nyambung jadi ayah ngajak ke warnet, dengan bantuan google translate mereka berkomunikasi. Sama dengan ibu, ayah juga banyak melontarkan pertanyaan. Ayah mengecek semua dokumennya, passport, visa, tiket, SIM, KTP dan mengecek keaslian data KTP nya di internet (KTP / TC Kimlik orang Turki bisa dicek keaslian datanya di internet, beda dengan KTP orang Indonesia).
Setelah beberapa hari nginap di hotel, kami menyewakan rumah untuk Ihsan di komplek perumahan dekat rumahku (sengaja gak di rumah ortuku ataupun rumahku agar gak terdengar bisik-bisik tetangga). Dia tinggal berdua dengan adek laki-lakiku yang kuliah di Pekanbaru. Seperti biasa aku harus menjalankan aktivitasku, pergi kerja jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Siangnya ibu yang menemani Ihsan karena adek kuliah. Tiap hari ibu mengajarkan bahasa Indonesia bermodalkan kamus bahasa Turki-Indonesia hadiah dari temanku. Sambil mengamati kesehariannya, tingkah lakunya, adab, sopan santun, sikap, sifat dan semuanya tentang Ihsan. Sehingga ibu bisa menyimpulkan dia 'orang baik' dan pantas jadi pendamping hidupku.
Ayah,...ayah tidak tinggal diam, mencoba menghubungi Turki Konsulat di Jakarta, mengecek keaslian data Ihsan dan informasi lainnya. Juga mencoba menghubungi keluarganya menanyakan apakah benar dia datang dengan restu keluarganya.
Setelah semuanya jelas dan ortuku yakin Ihsan 'orang baik' yang bisa menjagaku, tanggal 4 Oktober 2010 kami semua datang ke Turki Konsulat mengurus dokumen / persyaratan pernikahan agar pernikahan resmi dan diakui oleh kedua negara.
Tepat pada tanggal 8 Oktober 2010 aku menikah dengan Ihsan Demir.
^_^