Tidak saja di negaraku ternyata disini juga banyak orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan ataupun berpendidikan minim. Aku gak melakukan survey sih tapi ada beberapa pengalaman, seperti waktu belanja di supermarket sering ada ibu2 bertanya padaku 'berapa harga ini?', padahal harga barang tersebut terpampang, eh ternyata ibu2 itu buta huruf. Hhhmmmm di kota besar, Istanbul.
Aku harus bersyukur punya orangtua seperti ayah & ibuku, walaupun kehidupannya sederhana tapi mereka menomorsatukan pendidikan anak2nya, gak seperti kebanyakan tetangga yang lebih mementingkan beli sawah, kebun dan merenovasi rumah sebagus mungkin. Karena itu aku & adek2ku bisa melanjutkan pendidikan sampe Perguruan Tinggi.
Sering sih dulu aku merasa bosan dan capek, waktu SD (Sekolah Dasar) belajar dari pagi sampe siang, siang sampe sore sekolah MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) dan malamnya harus ke mesjid belajar ngaji.
Tamat SD melanjutkan MTs (Madrasah Tsanawiyah) belajar dari pagi sampe siang, siang sampe sore harus les dan malamnya juga harus belajar ngaji. Dan pernah 1 tahun jadi guru ngaji (Iqra' / metode atau cara cepat belajar membaca Al-Qur'an bagi anak2, jilid 1 s/d 6).
Tamat MTs lanjut SMA, belajar lagi dari pagi sampe siang, siang sampe sore harus les mata pelajaran dan kursus bahasa Inggris.
Tamat SMA lanjut kuliah D1, D3, S1 dan PPG. Ya tiada hari tanpa sekolah dan belajar.
Aku harus bersyukur dapat membaca Al-Qur'an dengan baik, mengerti dan bisa menulis alfabet Arab dengan baik.
Walaupun 99% penduduk Turki beragama Islam tapi tidak banyak yang bisa membaca Al-Qur'an (alfabet Arab) karena tidak diajarkan di sekolah2. Juga gak ada anak2 disini yang belajar ngaji di mesjid. Sebelumnya bahasa Turki memang menggunakan alfabet Arab, tapi tahun 1928 Atatürk memutuskan penggantian bahasa dan melakukan adaptasi bahasa sebagai salah satu proses modernisasi negara Turki. Sejak keputusan itu alfabet Arab diganti dengan alfabet Latin.
Hhhmmmm pantesan mereka kagum karena aku bisa membaca Al-Qur'an dan juga bisa menulisnya dengan baik.
Terima kasih buat ayah & ibuku..
^_^
Selasa, 06 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011
Ikan pantau dipancing Pak Latif, gak merantau aku gak kreatif
Waktu berumur 18 tahun aku memutuskan tinggal terpisah dari orang tuaku, untuk melanjutkan pendidikan (kuliah) dan kemudian bekerja. Tahun-tahun pertama aku dibekali makanan oleh ibu setiap minggu. Dan setelah bekerja, aku catering, bosan catering A pindah ke catering B, bosan lagi pindah ke catering C dan seterusnya dan sering jajan makanan diluar, pokoknya jarang sekali memasak walaupun hari libur. Karena itu aku gak tau bumbu-bumbu masakan apalagi cara memasak.
Setelah menikah dan pindah ke negara suamiku, Turkey, yang cita rasa makanan jauh berbeda dengan makanan Indonesia, jadi makin bingung mau masak apa. Disana yang bahan & bumbunya lengkap aja aku gak tau mau masak apa, apalagi disini dengan bahan & bumbu makanan Asia yang sangat terbatas di pasaran. Kalau kangen dengan makanan Indonesia sering search di google, liat gambar dan nelan ludah..:)
Lama-lama terpikir untuk berkreasi, ya walaupun belum pernah aku buat seumur hidupku disana, ini adalah kreasi pertama seumur hidupku dan di negeri orang :
- telor asin
- ikan asin
- bakso
- toge (tauge)
tunggu kreasiku berikutnya!!!
^_^
Setelah menikah dan pindah ke negara suamiku, Turkey, yang cita rasa makanan jauh berbeda dengan makanan Indonesia, jadi makin bingung mau masak apa. Disana yang bahan & bumbunya lengkap aja aku gak tau mau masak apa, apalagi disini dengan bahan & bumbu makanan Asia yang sangat terbatas di pasaran. Kalau kangen dengan makanan Indonesia sering search di google, liat gambar dan nelan ludah..:)
Lama-lama terpikir untuk berkreasi, ya walaupun belum pernah aku buat seumur hidupku disana, ini adalah kreasi pertama seumur hidupku dan di negeri orang :
- telor asin
- ikan asin
- bakso
- toge (tauge)
tunggu kreasiku berikutnya!!!
^_^
Langganan:
Komentar (Atom)




